Home Buku Buku “Tentang Cinta Karya dan Makna”

Buku “Tentang Cinta Karya dan Makna”

6
0

Buku Tentang Cinta Karya dan Makna ini berisi tentang pengalaman dan makna hidup dari Ibu Suti Masniari Nasution, dibuku tersebut beliau memberikan inspirasi dan penyemangat untuk pembaca agar bisa bertahan melintasi dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini terutama disituasi yang tidak kondusif akibat pandemi.

Keberhasilan seseorang dalam masyarakat 80% dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (EQ) dan hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ), di dunia modern saat ini kesuksesan juga ditentukan dengan membuka diri untuk bekerja sama agar mampu bersaing secara sehat dan hebat. Pendidikan itu harus mengandung 3 unsur (1) Belajar Tahu (2) Belajar Berbuat (3) Belajar Hidup Bersama. Ketiga aspek tersebut merupakan gabungan kebutuhan IQ dan EQ tersebut.

Keberhasilan sesungguhnya bukanlah perkara hasil melainkan proses yang kita alami dan taklukkan. Ibarat menaiki anak tangga yang tentu tidak akan bisa langsung berada di tangga paling atas. Kita harus menjalani proses yang mungkin ada melewatinya dengan cepat, lambat, tergopoh-gopoh atau justru tergesa-gesa. Jatuh bangun, proses yang tidak menyenangkan. Itu lah seninya sebuah proses.  Tidak ada proses yang mudah dan tidak ada hidup yang tidak didera masalah. Tapi dengan kegigihan, kesabaran dan sikap pantang menyerah, proses sesulit dan sehebat apapun pasti akan menjadi ringan.

Sebelum memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan, para pencari kerja harus mempelajari dan mecari tahu terlebih dahulu tentang perusahaan tersebut. Ketika pewawancara memberikan kesempatan untuk bertanya, ajukan hal-hal dasar yang mungkin terkesan sepele, tetapi penting untuk menjamin kecocokan dan ketahanan dalam bekerja. Karna seberapa tinggi pun gaji dan jabatanmu apabila tidak nyaman dan aman akan sia-sia. SDM adalah asset yang tidak hanya harus dijaga, tetapi juga diberi pembekalan dan pencerahan guna menghadapi tantangan dunia kerja.

Orang pintar itu banyak, tetapi orang baik itu sedikit. Menjadi orang baik itu lebih mudah dibandingkan menjadi orang pintar. Tapi tidak semua orang mau menjadi baik. Percuma kalau berlomba-lomba menjadi orang pintar, jika kamu tidak menjadi baik. Karena kepintaran akan mendatangkan kekayaan tetapi kebaikan akan mengantarkan pada keberhasilan dan keberuntungan. Cita diri sangat identik dengan citraan pribadi, semakin unik dan khas citra dirimu, maka semakin kuat ingatan orang tentangmu. Semakin dini kamu membentuk citra maka akan semakin matang kamu menatap masa depan, karena citraan pribadi itu bukan tentang bagaimana kamu menarik hati banyak orang, tetapi juga tentang membahagiakan dan mensyukuri diri sendiri atas anugerah yang dimiliki.

Mencintai diri sendiri akan menghidupkan sinyal positif dari seluruh pancaindra dan pusat saraf-saraf di tubuh, pancarannya akan ikut memengaruhi pola hidup kita sehari-hari. Kita melakukan kebaikan bukan karena ingin mendapatkan balasan atas apa yang sudah dilakukan melainkan karena kita memang merasa Bahagia dan nyaman melakukannya. Ternyata kebahagiaan bukanlah semata karena materi, melainkan bagaimana kita menghadirkannya di dalam hati dan pikiran kita. Jika Bahagia sudah kita rasakan, hakikat tertinggi dari mencintai diri sendiri adalah saat kita bisa membuat orang Bahagia atas berkah yang kita terima di dalam hidup.

Banyak anak muda yang lupa kalau saat yang tepat memikirkan hari tua itu, tepat pada saat kita memulai keberadaan di dunia kerja. Salah satu hal yang membuat orang muda kadang gagal mewujudkan mimpinya adalah godaan dari lingkungan pertemanan atau gaya hidup yang berkaca pada rumput tetangga, jangan sampai gaya hidup malah mengalahkan tujuan hidupmu. Oleh karena itu kemampuan merencanakan prioritas hidup adalah penerapan dari melatih kualitas diri dalam berkomitmen.

2 hal yang tidak bisa dipilih dalam hidup yaitu pertama orang tua kedua atasan. Sebagai bawahan pandai-pandailah menempatkan diri, begitu juga Ketika kelak menjadi atasan, baik-baiklah mengendalikan diri. Karna sebaik-baiknya pemimpin adalah orang yang mau membuka diri untuk belajar dari orang lain, memahami sudut pandang di luar dirinya, serta tidak cepat marah dan tersinggung bila mendapatkan kritikan. Suasana kerja yang saling mendukung, tidak hanya dipengaruhi kemampuan hebat tim. Kesehatan mental juga sangat memengaruhi terjalinnya iklim kerja yang sehat antara atasan dan bawahan.

Jadilah price maker bukan price taker. Negosiasi dapat diartikan sebagai forum berdiplomasi. Sehingga diplomasi kerap kali disamakan dengan negosiasi padahal negosiasi merupakan bentuk perundingannya. Sementara diplomasi adalah seni berundingnya. Negosiasinya adalah komunikasi timbal balik yang dirancang untuk mencapai tujuan Bersama.

Kebaikan yang kita berikan kepada orang lain tidak akan sia-sia, pasti akan Kembali kepada diri kita, baik secara rahasia maupun terang-terangan. Percayalah bahwa menjadi orang baik itu tidak akan pernah rugi dan keliru. Jadikanlah kebaikan sebagai identitas diri kita di mana pun berada, kepada siapa pun kita bersua. Tidak ada gunanya predikat dengan gelar Pendidikan dan status sosial tinggi bila kita tidak bisa mempergunakan jubah kebaikan dalam kepemimpinan kita.

Bersyukur membuat kita bisa memandang hidup lebih jernih. Bersyukur bukan berarti kita hanya berpasrah diri namun bersyukur adalah cara menerima apa yang kita terima hari ini, dan bertekat melakukan yang terbaik daripada hari sebelumnya. Hari ini lebih baik dari hari yang lalu, dan hari depan lebih baik dari hari ini, sehingga kita bisa bertumbuh dan berkembang. Bukan memaksakan. Sekecil apapun penghasilan maka syukurilah. Dengan bersyukur, yang sedikit akan terasa cukup, yang banyak akan menjadi sumber keberkahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here